“Open Source” Peluang Tak Terbatas Industri TIK

By | 29 October 2009
Perangkat lunak "Open Source" membuka peluang tak terbatas untuk mengembangkan industri di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam negeri sekaligus sumber daya manusia di sektor TIK.

Hal itu dinyatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring saat memberi sambutan pada "Global Conference on Open Source (GCOS)" yang
dihadiri sejumlah pakar open source dari berbagai negara di Jakarta, Senin.

Menurut Tifatul, Free Open Source Software (FOSS) diadopsi dan dimanfaatkan pemerintah bukan saja karena model bisnis alami FOSS yang gratis untuk digunakan, bebas sumber kode-nya untuk dimodifikasi dan
disebarkan tetapi juga karena kemandirian yang ditawarkan FOSS.

Bagi pemerintah, FOSS juga mengalihkan masyarakat Indonesia dari masalah pembajakan software (perangkat lunak) karena sifatnya yang gratis,
sementara software berlisensi (proprietary) seringkali tak terjangkau masyarakat.

Ia menyatakan bangga bahwa perangkat lunak sumber kode terbuka ini tumbuh sangat cepat meskipun sempat mengalami banyak hambatan dalam
implementasinya.

Banyaknya pakar dari berbagai negara yang hadir dan bertukar pengalaman dalam GCOS ini, lanjut dia, diharapkan mampu menghilangkan segala hambatan
dalam implementasi FOSS di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) Betti Alisjahbana mengharapkan FOSS bisa sukses diimplementasikan di Indonesia
dengan memperkuat komunitas open source.

"Kami berharap Indonesia bisa mengambil manfaat maksimum dari FOSS yang semakin berkembang di dunia untuk kemajuan TIK Indonesia dan pertumbuhan
ekonomi umumnya," kata Betti.

Menurut dia, sejak Indonesia Go Open Source (IGOS) dideklarasikan pada 30 Juni 2004 Indonesia sudah muncul menjadi pemimpin dalam gerakan open
source.

Sejumlah pakar dan praktisi dunia TIK khususnya open source yang hadir dalam konferensi ini antara lain: Sunil Abraham dari India, Krich
Nasingkun dari Thailand, Muh Rosli bin Abd Razak dari Malaysia, Ko Hong Eng dari Sun Micro System, Ray Davies dari IBM, Matthias Merkle dari
IntWEnt hingga Campbell O Webb dari Harvard University.

Selain itu sejumlah pakar open source Indonesia juga hadir seperti Onno W Purbo, I Made Wiryana, juga Indra Utoyo dari Telkom, Dr Aswin Sasongko
dari Depkominfo.
sumber: www.antara.co.id
Share and Enjoy
Baca :   Apa itu Google Play

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Security Comments : *

[+] kaskus emoticons